Citarasanya asam segar. Penampilannya kaya variasi. Tak heran bila produk fermentasi susu ini disukai banyak orang, termasuk anak-anak.Yoghurt adalah produk fermentasi susu yang bersifat semi-padat. Begitu populernya, sehingga penggemar produk ini tersebar di berbagai belahan dunia.Pakai starter khususYoghurt adalah produk yang masih “hidup”. Kekhasan yoghurt sebagai produk fermentasi memang berasal dari starter khusus yang dipakai, yaitu kultur bakteri asam laktat. Tanpa bakteri ini, yoghurt kurang bermanfaat bagi kesehatan.Dalam aksinya, bakteri ini akan mengubah laktosa (gula susu) jadi asam laktat. Begitu mencapai jumlah asam laktat tertentu, susu pun menggumpal. Saat ini, penggumpalan susu banyak dilakukan dengan kombinasi 2 bakteri asam laktat, yaitu Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus. Bisa juga, ditambahkan dengan bakteri lainnya. Memang, kalau mau menghasilkan flavor yang unik, ya pandai-pandailah memadukannya.Yoghurt seperti ini benar-benar tanpa tambahan perasa atau pewarna. Makanya, disebut yoghurt dasar (plain yoghurt).Komposisi gizi tergantung jenis susuMemang, komposisi zat gizi yoghurt ditentukan oleh bahan baku utamanya, yaitu susu. Umumnya, yoghurt mengandung tidak kurang dari 0,8% asam laktat, 9,5% padatan susu nonlemak, dan 3,0% protein.Selain susu utuh (whole milk), yoghurt bisa juga dibuat dari susu bubuk, susu skim, atau campuran antara suhu utuh dan susu skim. Dengan begitu, bisa didapat kadar lemak yang diinginkan. Yoghurt bebas lemak tidak boleh mengandung lemak lebih dari 0.5 g/100 g.Nah, karena terbuat dari susu, mau tidak mau yoghurt (yang tidak ditambah gula) punya komposisi mirip dengan komposisi susu. Itu sebabnya, yoghurt juga sumber protein dan kalsium yang sangat oke. Bahkan, konsumsi yoghurt sebanyak 100 g per hari mampu memberikan sumbangan sekitar 15% dari kebutuhan kalsium dan protein per hari. Makanya, makan yoghurt secara teratur bisa membantu mencegah pengeroposan tulang (osteoporosis). Juga, karena sebagian besar laktosa (gula susu) telah difermentasi, yoghurt bisa jadi alternatif makanan bagi penderita yang tidak bisa mencerna laktosa (laktosa intoleransi).Perlu dicatat, standar internasional menentukan yoghurt yang bermutu baik harus mengandung maksimum 10 koliform per gram dan 100 kapang atau khamir per gram. Selain itu, yoghurt tidak boleh mengandung lebih dari 2,0% senyawa pembentuk tekstur (penstabil, pembentuk gel, pengental atau pengemulsi), asam sitrat, pewarna makanan dan pengawet yang diizinkan (khususnya yoghurt dengan tambahan buah, jus buah, ekstrak buah, atau selai).Diduga bisa memperpanjang usiaManfaat yoghurt pertama kali diungkap oleh Elie Metchnikoff , ilmuwan Rusia penerima nobel biologi/fisiologi kedokteran tahun 1908. Menurut Metchnikoff, tingginya usia hidup rata-rata warga suku-suku pegunungan di Bulgaria , yakni 87 tahun, ada hubungannya dengan kebiasaan mereka mengonsumsi yoghurt. Bakteri akan masuk dan tinggal di usus, lalu memberi pengaruh positif terhadap keseimbangan mikroflora usus. Caranya? Menurunkan efek racun dari bakteri yang merugikan di usus.Jadi, yoghurt “hidup” (belum dipanaskan) yang mengandung ‘bakteri baik’ akan berperang dan membunuh ‘bakteri jahat’ yang suka “tebar-tebar” racun di usus. Yang termasuk ‘bakteri baik’ adalah Bifidobacterium, Eubacterium dan Lactobacillus. Sebagai gambaran, diperkirakan ada 100-400 jenis bakteri dalam usus manusia dan membentuk flora usus.Selain itu, konsumsi yoghurt akan meningkatkan jumlah bakteri baik di usus. Diduga, inilah yang membuat kesehatan prima, plus panjang umur. Cuma itu? Tentu saja tidak. Aktivitas bakteri asam laktat selama fermentasi susu jadi yoghurt ternyata bisa meningkatkan kandungan gizi yoghurt. Khususnya, B1, B2, B3, B6, asam folat, asam pantotenat, dan biotin. Vitamin tersebut berperan penting dalam kesehatan reproduksi dan kekebalan tubuh.Juga, yoghurt mudah dan cepat dicerna tubuh. Bayangkan saja, lebih dari 90% yoghurt bisa dicerna tubuh dalam waktu 1 jam setelah konsumsi. Bagaimana dengan susu? Dalam waktu yang sama, baru tercerna 30% saja.
*)Penulis adalah Dosen Departemen Teknologi Pangan dan Gizi, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Friday, 9 May 2008
Thursday, 8 May 2008
Terlalu lekat pada ibu
Karena kondisi-konsisi tertentu, anak bisa menjadi tidak mandiri dan ingin terus melekat pada ibunya. Berikut ini pengalaman dua ibu yang pernah mengalami hal itu
Lina Wijaya (39 tahun),Staf akunting, ibu dari Rheza (6 tahun), Renardi (3,5 tahun) dan Ranni (1,5 tahun)“Karena Lahir Adiknya”Anak saya yang lekat terus pada saya adalah Renardi, anak kedua saya. Setiap hari kalau saya ke kantor, pasti dia menangis dan minta digendong. Jadi, sebelum pergi, saya harus menggendongnya sampai naik ke kendaraan. Tangisnya baru berhenti kalau saya lenyap dari pandangannya. Begitu juga kalau saya hanya pergi sebentar, entah ke warung atau ke apotik, pasti Renardi minta diajak. Dia tidak pernah bisa ditinggal.Di rumah pun, dia minta digendong terus menerus. Alasannya, dia merasa capai. Kalau saya mau ke kamar mandi, untuk mandi atau keperluan lain, pasti Renardi maunya ikut saya. Padahal, sudah saya jelaskan saya mau mandi dulu. Tetap saja dia tidak mau ditinggal dan minta ikut. Ada saja alasannya, mau pipislah, mau buang air besarlah dan sebagainya. Tapi sesampainya di kamar mandi, dia tidak melakukan apa yang dia sebutkan tadi itu. Dia cuma beralasan agar bisa ikut saya ke kamar mandi.Begitu juga kalau tidur. Sampai sekarang Renardi masih sekamar dengan saya, ayahnya dan adiknya, Ranni. Sedangkan Reza, si sulung, sudah pisah kamar. Sebelum tidur, saya harus memeluknya sampai dia terlelap. Baru, setelah itu, saya menemani Ranni. Kalau tidak... pasti Renardi menangis.Tentu saja saya pernah kesal menghadapi dia. Saya pernah mendiamkannya ketika Renardi sedang menangis meraung-raung. Tapi mendengar dia terus menangis, lama kelamaan saya kasihan. Akhirnya, ia saya gendong dan langsung diam.Dalam hati kecil sebenarnya saya senang dia lekat terus pada saya. Itu artinya ‘kan dia membutuhkan saya. Tapi saya juga khawatir, kalau lekat terus pada saya, ia jadi tidak mandiri. Padahal, ia sudah punya adik.Sebelum lekat terus pada saya, di usia 1,5 tahun, Renardi menempel betul pada pengasuhnya. Kalau mau tidur, yang dicari adalah pengasuhnya. Saya cemburu sekali. Karenanya, saat anak ketiga lahir, saya tidak memakai tenaga pengasuh lagi. Renardi pun jadi lengket sekali pada saya.Kalau saya perhatikan, melekatnya Renardi pada saya adalah sejak Ranni lahir. Dia kelihatannya cemburu sekali pada adiknya. Kalau saya gendong adiknya, dia langsung meminta saya untuk meletakkan adiknya dan menggendong dia. Bahkan saya pernah menggendong keduanya. Satu tangan menggendong Rani, satu tangan menggendong Renardi.Menariknya, kalau pada kakaknya, Reza, ia tidak cemburu. Kalau mainannya dipinjam kakaknya dia tidak berkeberatan. Lain kalau mainannya dimainkan adiknya, langsung direbut sambil berkata, “Ini punya Ndi” (Renardi memanggil dirinya, Ndi, Red ).Untuk mengatasi sikap itu, saya mencoba memberikan pengertian dengan mengatakan, ”Masa Ndi minta gendong terus sama Mama? Adik Ranni aja en ggak. Malu dong sama adik Ranni.” Saya juga kini tengah mempersiapkan Renardi masuk TK di tahun ajaran baru ini agar dia bergaul dan punya lingkungan sosial yang tepat
.Norina Setyawati Girindra (36 tahun),Ibu rumah tangga, ibu dari Reza Girindra ( 5,5 tahun)“
Terbiasa Jadi Anak Tunggal”
Putra saya, Reza (5,5 tahun), sampai sekarang masih lekat terus pada saya. Dia selalu minta ikut ke mana pun saya pergi, walaupun saya hanya pergi ke toko atau pasar swalayan di dekat rumah. Kalau tidak diajak, dia pasti menangis.Begitu juga kalau sekolah. Sampai sekarang sudah duduk di TK B, Reza masih minta saya temani. Padahal tahun ini dia akan masuk SD. Yang saya tahu di SD anak tidak boleh ditunggui. Tapi bagaimana?Sejak masih di play group Reza selalu minta ditemani. Pokoknya dia maunya saya yang mengantarkan, saya menunggu dan ketika dia pulang harus saya yang menjemput. Jika tidak dituruti, pasti Reza menangis.Begitu juga kalau tidur. Sebelum tidur, entah tidur siang atau tidur malam, Reza harus saya temani. Dia baru bisa tidur kalau ada saya di sisinya.Dugaan saya mengapa dia lengket terus seperti itu karena dia terbiasa jadi anak tunggal. Selain itu, saya ‘kan ibu rumah tangga, sehingga kebersamaan kami nyaris 24 jam. Saya juga masih tinggal bersama ibu mertua. Sementara kakak dan adik ipar saya tinggal berlainan rumah, sehingga Reza jadi anak dan cucu tunggal di rumah.Faktor lain yang menyebabkan dia begitu karena tidak ada teman sebaya di lingkungan rumah. Hubungan Reza dengan ayahnya, Yasser Girindra (35 tahun), cukup dekat. Tapi pada ayahnya, ia tidak menempel terus seperti terhadap saya.Melihat Reza seperti itu, dalam hati saya senang-senang saja. Daripada dia dekat dengan pembantu ‘kan? Sepanjang saya masih sanggup meladeninya, akan saya turuti. Bila ia mau ikut saya ke mana pun saya pergi, atau berada di dekat saya terus menerus tanpa lepas dari pandangannya, saya tak keberatan.Walau senang dengan kelekatan Reza, kadang-kadang perasaan kesal menerpa juga. Misalnya, kalau dia minta ikut padahal saya harus pergi ke suatu tempat yang tidak mungkin dia ikut. Pernah saya harus hadir di reuni SMA yang disarankan tidak mengajak anak dan pasangan. Tapi saya gagal memenuhi syarat itu. Saya jadi satu-satunya ibu yang membawa anak ke reuni.Untuk mendidik dia agar tidak lekat terus begitu, saya selalu mengatakan padanya bahwa dia tidak bisa terus-terusan dengan ibunya. Apalagi sebentar lagi dia akan menjadi kakak. Untungnya dia mengerti. [J1]Yang membuat saya heran, selama saya hamil, kemanjaannya justru berkurang. Mungkin karena saya katakan bahwa dia akan menjadi kakak yang akan mengasuh adiknya kelak. Satu lagi siasat saya, jika saya harus pergi sendiri, saya membelikan games terbaru dari Play Station karena dia senang permainan itu. Jika sudah asyik, dia bisa melepas saya pergi, walau tak lama. Jika saya pergi lebih dari satu jam, dia akan menelepon saya.Anak Kurang Merasa Aman dan Nyaman
Sebenarnya periode kelekatan pada anak usia 1 - 2 tahun masih wajar. Anak di usia ini sedang butuh kelekatan dengan figur afektif. Misalnya, ibu, ayah, babysitter , atau kakek-nenek. Anak akan lekat pada figur yang membuat dia merasa aman dan nyaman. Pada proses itu, t rust, atau pembentukan rasa percaya dan aman, terjadi.Ketika melewati usia 2 tahun, anak seharusnya mulai bisa dilepas sendiri, karena dia mulai masuk tahap otonomi. Artinya, ia mulai mampu melakukan apa-apa sendiri. Ia bereksplorasi ke lingkungan sekitar sendiri, bisa lepas dari orang tuanya dan bergaul dengan orang lain atau beradaptasi dalam lingkungan baru. Jadi, si kecil pun tidak harus dengan ibunya terus menerus.Kita menyebut seorang anak clinging, atau terlalu lekat, apabila anak usia 3 tahun ke atas masih melekat terus pada ibunya atau figur afektif. Misalnya, anak itu mau ikut ke mana pun ibu pergi dan menangis jika tidak boleh ikut. Atau, saat masuk sekolah, dia harus ditunggui terus menerus. Masuk ke suatu lingkungan baru tidak bisa, maunya dengan ibu.Penyebab clinging pada dasarnya adalah karena kurangnya rasa aman dan nyaman ( insecure ) dalam diri anak. Rasa aman ini bisa terganggu misalnya pada seorang anak yang adiknya baru lahir. Ia melihat bahwa sosok baru ini menguasai figur signifikan dia (ibunya), sehingga rasa amannya terancam. Pola asuh yang over protektif dan selalu menuruti segala permintaan anak juga bisa menyebabkan anak clinging . Anak selalu dilindungi dan tidak diberi kesempatan melakukan apa-apa yang semestinya bisa ia lakukan sendiri. Jadi, ketika anak harus sendirian, dia merasa tidak aman. Tapi, sebaliknya, anak yang tidak mendapat pemenuhan proteksi dari ibunya pun dapat merasa tidak aman.Pada kasus ibu rumah tangga penuh, harus dilihat kualitas kebersamaan dengan si kecil, bukan hanya kuantitasnya. Artinya, kehadiran ibu itu memang positif, namun lebih positif lagi jika ibu memberi sesuatu untuk anak; yaitu perhatian dan kasih sayang. Ini lebih efektif. Ibu rumah tangga yang 24 jam ada di rumah kalau bukan berarti ia memberikan perhatian dan kasih sayang yang cukup dan sesuai untuk anaknya.Apabila anak lebih dari satu, apakah porsi kasih sayang orang tua cukup seimbang antara anak yang satu dengan yang lain? Kadangkala kalau anak berikutnya datang, anak lain bisa terabaikan. Anak itu peka sekali jika ada orang baru hadir dalam kehidupannya. Penting diperhatikan bahwa anak butuh perhatian yang sama besarnya walaupun anak berikutnya lahir.Kalau anak terlalu lekat, maka ibu harus lebih peka bahwa anak ini insecure . Pada ibu bekerja, misalnya, tunjukkan pada anak bahwa walaupun ibu pergi, ibu akan kembali dan tetap ada untuk anak. Coba pahami juga tentang kegelisahan dan ketakutannya jika ibu tidak ada di sampingnya. Caranya, dengan langsung menanyakan kepadanya.Memasukkan anak ke playgroup atau Taman Kanak-kanak juga bisa menjadi langkah tepat, sepanjang anak tidak dilepas begitu saja. Langkah ini mengalihkan anak ke lingkungan sosial agar dia bisa berinteraksi dan membentuk dunianya dengan orang lain, bukan hanya orang tuanya. Namun katakan pada anak, di hari pertama sekolah ibu akan menunggui dan keesokan harinya dia bisa bersekolah sendiri
.Evi Sukmaningrum S.Psi .Staf pengajar Fakultas Psikologi, Universitas Atma Jaya, Jakarta
Sumber artikel: Ayahbunda-online.com
Lina Wijaya (39 tahun),Staf akunting, ibu dari Rheza (6 tahun), Renardi (3,5 tahun) dan Ranni (1,5 tahun)“Karena Lahir Adiknya”Anak saya yang lekat terus pada saya adalah Renardi, anak kedua saya. Setiap hari kalau saya ke kantor, pasti dia menangis dan minta digendong. Jadi, sebelum pergi, saya harus menggendongnya sampai naik ke kendaraan. Tangisnya baru berhenti kalau saya lenyap dari pandangannya. Begitu juga kalau saya hanya pergi sebentar, entah ke warung atau ke apotik, pasti Renardi minta diajak. Dia tidak pernah bisa ditinggal.Di rumah pun, dia minta digendong terus menerus. Alasannya, dia merasa capai. Kalau saya mau ke kamar mandi, untuk mandi atau keperluan lain, pasti Renardi maunya ikut saya. Padahal, sudah saya jelaskan saya mau mandi dulu. Tetap saja dia tidak mau ditinggal dan minta ikut. Ada saja alasannya, mau pipislah, mau buang air besarlah dan sebagainya. Tapi sesampainya di kamar mandi, dia tidak melakukan apa yang dia sebutkan tadi itu. Dia cuma beralasan agar bisa ikut saya ke kamar mandi.Begitu juga kalau tidur. Sampai sekarang Renardi masih sekamar dengan saya, ayahnya dan adiknya, Ranni. Sedangkan Reza, si sulung, sudah pisah kamar. Sebelum tidur, saya harus memeluknya sampai dia terlelap. Baru, setelah itu, saya menemani Ranni. Kalau tidak... pasti Renardi menangis.Tentu saja saya pernah kesal menghadapi dia. Saya pernah mendiamkannya ketika Renardi sedang menangis meraung-raung. Tapi mendengar dia terus menangis, lama kelamaan saya kasihan. Akhirnya, ia saya gendong dan langsung diam.Dalam hati kecil sebenarnya saya senang dia lekat terus pada saya. Itu artinya ‘kan dia membutuhkan saya. Tapi saya juga khawatir, kalau lekat terus pada saya, ia jadi tidak mandiri. Padahal, ia sudah punya adik.Sebelum lekat terus pada saya, di usia 1,5 tahun, Renardi menempel betul pada pengasuhnya. Kalau mau tidur, yang dicari adalah pengasuhnya. Saya cemburu sekali. Karenanya, saat anak ketiga lahir, saya tidak memakai tenaga pengasuh lagi. Renardi pun jadi lengket sekali pada saya.Kalau saya perhatikan, melekatnya Renardi pada saya adalah sejak Ranni lahir. Dia kelihatannya cemburu sekali pada adiknya. Kalau saya gendong adiknya, dia langsung meminta saya untuk meletakkan adiknya dan menggendong dia. Bahkan saya pernah menggendong keduanya. Satu tangan menggendong Rani, satu tangan menggendong Renardi.Menariknya, kalau pada kakaknya, Reza, ia tidak cemburu. Kalau mainannya dipinjam kakaknya dia tidak berkeberatan. Lain kalau mainannya dimainkan adiknya, langsung direbut sambil berkata, “Ini punya Ndi” (Renardi memanggil dirinya, Ndi, Red ).Untuk mengatasi sikap itu, saya mencoba memberikan pengertian dengan mengatakan, ”Masa Ndi minta gendong terus sama Mama? Adik Ranni aja en ggak. Malu dong sama adik Ranni.” Saya juga kini tengah mempersiapkan Renardi masuk TK di tahun ajaran baru ini agar dia bergaul dan punya lingkungan sosial yang tepat
.Norina Setyawati Girindra (36 tahun),Ibu rumah tangga, ibu dari Reza Girindra ( 5,5 tahun)“
Terbiasa Jadi Anak Tunggal”
Putra saya, Reza (5,5 tahun), sampai sekarang masih lekat terus pada saya. Dia selalu minta ikut ke mana pun saya pergi, walaupun saya hanya pergi ke toko atau pasar swalayan di dekat rumah. Kalau tidak diajak, dia pasti menangis.Begitu juga kalau sekolah. Sampai sekarang sudah duduk di TK B, Reza masih minta saya temani. Padahal tahun ini dia akan masuk SD. Yang saya tahu di SD anak tidak boleh ditunggui. Tapi bagaimana?Sejak masih di play group Reza selalu minta ditemani. Pokoknya dia maunya saya yang mengantarkan, saya menunggu dan ketika dia pulang harus saya yang menjemput. Jika tidak dituruti, pasti Reza menangis.Begitu juga kalau tidur. Sebelum tidur, entah tidur siang atau tidur malam, Reza harus saya temani. Dia baru bisa tidur kalau ada saya di sisinya.Dugaan saya mengapa dia lengket terus seperti itu karena dia terbiasa jadi anak tunggal. Selain itu, saya ‘kan ibu rumah tangga, sehingga kebersamaan kami nyaris 24 jam. Saya juga masih tinggal bersama ibu mertua. Sementara kakak dan adik ipar saya tinggal berlainan rumah, sehingga Reza jadi anak dan cucu tunggal di rumah.Faktor lain yang menyebabkan dia begitu karena tidak ada teman sebaya di lingkungan rumah. Hubungan Reza dengan ayahnya, Yasser Girindra (35 tahun), cukup dekat. Tapi pada ayahnya, ia tidak menempel terus seperti terhadap saya.Melihat Reza seperti itu, dalam hati saya senang-senang saja. Daripada dia dekat dengan pembantu ‘kan? Sepanjang saya masih sanggup meladeninya, akan saya turuti. Bila ia mau ikut saya ke mana pun saya pergi, atau berada di dekat saya terus menerus tanpa lepas dari pandangannya, saya tak keberatan.Walau senang dengan kelekatan Reza, kadang-kadang perasaan kesal menerpa juga. Misalnya, kalau dia minta ikut padahal saya harus pergi ke suatu tempat yang tidak mungkin dia ikut. Pernah saya harus hadir di reuni SMA yang disarankan tidak mengajak anak dan pasangan. Tapi saya gagal memenuhi syarat itu. Saya jadi satu-satunya ibu yang membawa anak ke reuni.Untuk mendidik dia agar tidak lekat terus begitu, saya selalu mengatakan padanya bahwa dia tidak bisa terus-terusan dengan ibunya. Apalagi sebentar lagi dia akan menjadi kakak. Untungnya dia mengerti. [J1]Yang membuat saya heran, selama saya hamil, kemanjaannya justru berkurang. Mungkin karena saya katakan bahwa dia akan menjadi kakak yang akan mengasuh adiknya kelak. Satu lagi siasat saya, jika saya harus pergi sendiri, saya membelikan games terbaru dari Play Station karena dia senang permainan itu. Jika sudah asyik, dia bisa melepas saya pergi, walau tak lama. Jika saya pergi lebih dari satu jam, dia akan menelepon saya.Anak Kurang Merasa Aman dan Nyaman
Sebenarnya periode kelekatan pada anak usia 1 - 2 tahun masih wajar. Anak di usia ini sedang butuh kelekatan dengan figur afektif. Misalnya, ibu, ayah, babysitter , atau kakek-nenek. Anak akan lekat pada figur yang membuat dia merasa aman dan nyaman. Pada proses itu, t rust, atau pembentukan rasa percaya dan aman, terjadi.Ketika melewati usia 2 tahun, anak seharusnya mulai bisa dilepas sendiri, karena dia mulai masuk tahap otonomi. Artinya, ia mulai mampu melakukan apa-apa sendiri. Ia bereksplorasi ke lingkungan sekitar sendiri, bisa lepas dari orang tuanya dan bergaul dengan orang lain atau beradaptasi dalam lingkungan baru. Jadi, si kecil pun tidak harus dengan ibunya terus menerus.Kita menyebut seorang anak clinging, atau terlalu lekat, apabila anak usia 3 tahun ke atas masih melekat terus pada ibunya atau figur afektif. Misalnya, anak itu mau ikut ke mana pun ibu pergi dan menangis jika tidak boleh ikut. Atau, saat masuk sekolah, dia harus ditunggui terus menerus. Masuk ke suatu lingkungan baru tidak bisa, maunya dengan ibu.Penyebab clinging pada dasarnya adalah karena kurangnya rasa aman dan nyaman ( insecure ) dalam diri anak. Rasa aman ini bisa terganggu misalnya pada seorang anak yang adiknya baru lahir. Ia melihat bahwa sosok baru ini menguasai figur signifikan dia (ibunya), sehingga rasa amannya terancam. Pola asuh yang over protektif dan selalu menuruti segala permintaan anak juga bisa menyebabkan anak clinging . Anak selalu dilindungi dan tidak diberi kesempatan melakukan apa-apa yang semestinya bisa ia lakukan sendiri. Jadi, ketika anak harus sendirian, dia merasa tidak aman. Tapi, sebaliknya, anak yang tidak mendapat pemenuhan proteksi dari ibunya pun dapat merasa tidak aman.Pada kasus ibu rumah tangga penuh, harus dilihat kualitas kebersamaan dengan si kecil, bukan hanya kuantitasnya. Artinya, kehadiran ibu itu memang positif, namun lebih positif lagi jika ibu memberi sesuatu untuk anak; yaitu perhatian dan kasih sayang. Ini lebih efektif. Ibu rumah tangga yang 24 jam ada di rumah kalau bukan berarti ia memberikan perhatian dan kasih sayang yang cukup dan sesuai untuk anaknya.Apabila anak lebih dari satu, apakah porsi kasih sayang orang tua cukup seimbang antara anak yang satu dengan yang lain? Kadangkala kalau anak berikutnya datang, anak lain bisa terabaikan. Anak itu peka sekali jika ada orang baru hadir dalam kehidupannya. Penting diperhatikan bahwa anak butuh perhatian yang sama besarnya walaupun anak berikutnya lahir.Kalau anak terlalu lekat, maka ibu harus lebih peka bahwa anak ini insecure . Pada ibu bekerja, misalnya, tunjukkan pada anak bahwa walaupun ibu pergi, ibu akan kembali dan tetap ada untuk anak. Coba pahami juga tentang kegelisahan dan ketakutannya jika ibu tidak ada di sampingnya. Caranya, dengan langsung menanyakan kepadanya.Memasukkan anak ke playgroup atau Taman Kanak-kanak juga bisa menjadi langkah tepat, sepanjang anak tidak dilepas begitu saja. Langkah ini mengalihkan anak ke lingkungan sosial agar dia bisa berinteraksi dan membentuk dunianya dengan orang lain, bukan hanya orang tuanya. Namun katakan pada anak, di hari pertama sekolah ibu akan menunggui dan keesokan harinya dia bisa bersekolah sendiri
.Evi Sukmaningrum S.Psi .Staf pengajar Fakultas Psikologi, Universitas Atma Jaya, Jakarta
Sumber artikel: Ayahbunda-online.com
Wednesday, 23 April 2008
Yes, I Can!
Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Itu kalau Anda mau percaya. Pasalnya begitu banyak orang sudah membuktikannya.Pernah dengar nama Tony Christiansen? Tony adalah contoh sempurna bagaimana seseorang bisa mengejar impiannya. Lelaki asal Selandia Baru ini kehilangan kedua kakinya pada usia 9 tahun. Untuk ukuran orang biasa, pilihan hidupnya mungkin menjadi begitu terbatas. Tapi dia berhasil mementahkan semuanya dan menjadi seorang surflifeguard, juara renang, juara balap motor, pilot bersertifikasi, atlet TaekWon-Do bahkan mendaki gunung Kilimanjaro!
Untuk membuktikan diri, Anda tak perlu mendaki Kilimanjaro (kecuali Anda memang memimpikannya :) Tapi apa yang dilakukan Tony menjadi contoh nyata bahwa Can-Do Attitude bukanlah isapan jempol belaka. Sikap ini kini menjadi tuntutan di segala bidang. Apalagi di zaman serbasusah sekarang ini. Dalam dunia binis Indonesia misalnya, prinsip Can-Do Attitude sering diterjemahkan menjadi alamogada alias apa lo mau gue ada.Di dunia kerja, Can-Do Attitude kini menjadi tolok ukur baru dalam menjaring karyawan. Mereka yang memiliki sikap ini dinilai lebih ketimbang mereka yang hanya bermodalkan skill. Bahkan sebuah survey yang dilakukan pada para manajer perusahaan menunjukkan, bahwa orang yang paling diinginkan dalam sebuah tim, pilihannya bukan si cerdas atau si hebat. Tapi orang-orang dengan tipe kepribadian Can-Do Attitude. Orang seperti ini biasanya enerjik, mampu berpikir kritis, suka belajar dan penuh inisiatif. Orang seperti ini dipercaya bisa membuat perbedaan dan membangun suasana karena menyebarkan energi positif pada lingkungannya.
Secara detil, situs Hyperstress.com memberikan 12 ciri yang biasa dijumpai pada mereka yang memiliki sikap Can-Do Attitude, yaitu:
1. Berpikir 'how' ketimbang 'if'. Bila dihadapkan pada suatu masalah, mereka akan berusaha mencari pemecahannya. Bukan sibuk dengan pikiran-pikiran seperti: what if...
2. Berpikir 'when' ketimbang 'maybe'. Alih-alih berkata 'mungkin saya akan melakukannya nanti...', mereka akan berkata 'saya akan mulai mencobanya minggu depan'.
3. Memikirkan segala kemungkinan dan mencoba mewujudkannya.
4. Tidak sekadar berpikir 'bisa', tapi bisa melakukannya dengan baik dan tepat.
5. Mengetahui bahwa untuk mencapai impian perlu usaha lebih pintar, bukan lebih keras.
6. Percaya pada diri sendiri, percaya pada orang lain dan percaya pada masa depan.
7. Tahu kapan bekerja, kapan berisitrahat. Kapan harus melakukan sesuatu sendiri, kapan harus meminta pertolongan orang lain.
8. Melihat perubahan sebagai tantangan dan peluang.
9. Peduli pada diri sendiri, oang lain dan lingkungannya.
10. Berdiri tegak karena perjuangannya, bukan hasil menginjak orang lain.
11. Menyadari bahwa keberhasilan adalah kemenangan mengatasi kelemahan dan mau membantu orang lain menggali potensi diri.
12. Hanya punya satu cara untuk menjalani hidup: dengan semangat, percaya diri, keyakinan dan integritas.
4 Langkah Membangun Can-Do Attitude
I Believe I Can Fly
Percayalah selalu bahwa Anda sanggup melakukan apa saja bila mau atau terpaksa :) Jadi ketika hati Anda mulai tergoda untuk mengatakan tidak bisa atau ajakan untuk menyerah, kunyah sampai lumat pikiran itu atau telan bulat-bulat. Bila dituruti itu hanya akan membuat rasa percaya diri berkurang dan menjatuhkan motivasi.
Maju Tak Gentar
Jangan buru-buru kabur bila menghadapi sebuah permasalahan. Rangsang pikiran untuk selalu mencari solusi. Anda mesti percaya bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Percayalah bahwa Anda bukanlah satu-satunya orang di dunia yang pernah mengalami satu masalah sulit. Coba saja ketik kata kunci persoalan Anda di search engine. Bohong banget kalau itu tidak membawa Anda pada sesuatu.
Open Arms
Tak ada salahnya bersikap terbuka. Sikap defensive hanya merugikan dan akan menghambat kemajuan dan peluang untuk sukses. Semakin Anda terbuka terhadap segala masukan dan kemungkinan, peluang menyelesaikan permasalahan akan lebih besar.
I Did It My Way
Mendengarkan masukan bukan berarti menelannya mentah-mentah. Sebagai pribadi yang kritis, Anda perlu menyaringnya dengan baik dan menyesuaikan dengan kebutuhan pribadi. Prinsipnya apa yang baik untuk orang lain, belum tentu baik buat kita. Demikian pula sebaliknya.
Untuk membuktikan diri, Anda tak perlu mendaki Kilimanjaro (kecuali Anda memang memimpikannya :) Tapi apa yang dilakukan Tony menjadi contoh nyata bahwa Can-Do Attitude bukanlah isapan jempol belaka. Sikap ini kini menjadi tuntutan di segala bidang. Apalagi di zaman serbasusah sekarang ini. Dalam dunia binis Indonesia misalnya, prinsip Can-Do Attitude sering diterjemahkan menjadi alamogada alias apa lo mau gue ada.Di dunia kerja, Can-Do Attitude kini menjadi tolok ukur baru dalam menjaring karyawan. Mereka yang memiliki sikap ini dinilai lebih ketimbang mereka yang hanya bermodalkan skill. Bahkan sebuah survey yang dilakukan pada para manajer perusahaan menunjukkan, bahwa orang yang paling diinginkan dalam sebuah tim, pilihannya bukan si cerdas atau si hebat. Tapi orang-orang dengan tipe kepribadian Can-Do Attitude. Orang seperti ini biasanya enerjik, mampu berpikir kritis, suka belajar dan penuh inisiatif. Orang seperti ini dipercaya bisa membuat perbedaan dan membangun suasana karena menyebarkan energi positif pada lingkungannya.
Secara detil, situs Hyperstress.com memberikan 12 ciri yang biasa dijumpai pada mereka yang memiliki sikap Can-Do Attitude, yaitu:
1. Berpikir 'how' ketimbang 'if'. Bila dihadapkan pada suatu masalah, mereka akan berusaha mencari pemecahannya. Bukan sibuk dengan pikiran-pikiran seperti: what if...
2. Berpikir 'when' ketimbang 'maybe'. Alih-alih berkata 'mungkin saya akan melakukannya nanti...', mereka akan berkata 'saya akan mulai mencobanya minggu depan'.
3. Memikirkan segala kemungkinan dan mencoba mewujudkannya.
4. Tidak sekadar berpikir 'bisa', tapi bisa melakukannya dengan baik dan tepat.
5. Mengetahui bahwa untuk mencapai impian perlu usaha lebih pintar, bukan lebih keras.
6. Percaya pada diri sendiri, percaya pada orang lain dan percaya pada masa depan.
7. Tahu kapan bekerja, kapan berisitrahat. Kapan harus melakukan sesuatu sendiri, kapan harus meminta pertolongan orang lain.
8. Melihat perubahan sebagai tantangan dan peluang.
9. Peduli pada diri sendiri, oang lain dan lingkungannya.
10. Berdiri tegak karena perjuangannya, bukan hasil menginjak orang lain.
11. Menyadari bahwa keberhasilan adalah kemenangan mengatasi kelemahan dan mau membantu orang lain menggali potensi diri.
12. Hanya punya satu cara untuk menjalani hidup: dengan semangat, percaya diri, keyakinan dan integritas.
4 Langkah Membangun Can-Do Attitude
I Believe I Can Fly
Percayalah selalu bahwa Anda sanggup melakukan apa saja bila mau atau terpaksa :) Jadi ketika hati Anda mulai tergoda untuk mengatakan tidak bisa atau ajakan untuk menyerah, kunyah sampai lumat pikiran itu atau telan bulat-bulat. Bila dituruti itu hanya akan membuat rasa percaya diri berkurang dan menjatuhkan motivasi.
Maju Tak Gentar
Jangan buru-buru kabur bila menghadapi sebuah permasalahan. Rangsang pikiran untuk selalu mencari solusi. Anda mesti percaya bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Percayalah bahwa Anda bukanlah satu-satunya orang di dunia yang pernah mengalami satu masalah sulit. Coba saja ketik kata kunci persoalan Anda di search engine. Bohong banget kalau itu tidak membawa Anda pada sesuatu.
Open Arms
Tak ada salahnya bersikap terbuka. Sikap defensive hanya merugikan dan akan menghambat kemajuan dan peluang untuk sukses. Semakin Anda terbuka terhadap segala masukan dan kemungkinan, peluang menyelesaikan permasalahan akan lebih besar.
I Did It My Way
Mendengarkan masukan bukan berarti menelannya mentah-mentah. Sebagai pribadi yang kritis, Anda perlu menyaringnya dengan baik dan menyesuaikan dengan kebutuhan pribadi. Prinsipnya apa yang baik untuk orang lain, belum tentu baik buat kita. Demikian pula sebaliknya.
Tuesday, 22 April 2008
Fakta Soal Otak Anak Anda
Senin, 21 April 2008 19:13 WIB
OTAK merupakan organ vital yang berfungsi sebagai pusat kontrol dan kendali atas semua sistem di dalam tubuh. Otak yang juga merupakan pusat kecerdasan atau pusat kemampuan berpikir ini mulai dibentuk selang beberapa saat setelah terjadinya konsepsi (proses peleburan inti sel telur dan inti sel sperma).
Karena itu, sejak anak lahir hingga mulai bisa mengenal beragam hal di lingkungannya, otak anak harus segera dirangsang. Caranya, kenalkan anak pada banyak hal di lingkungan sekitar kita entah itu binatang, tumbuhan, beragam benda lain serta bilangan dan bahasa yang sederhana.
Berikut fakta atas otak anak yang perlu kita ketahui :1. Para ilmuwan menyatakan bahwa 50 % kemampuan otak anak-anak terbentuk dalam 6 tahun pertamanya.
2. Lingkungan memberi efek dramatis pada perkembangan otak balita.
3. Aktivitas dalam otak menciptakan arus kecil listrik yang disebut sinapsis dan jumlah rangsangan yang diterima bayi Anda mendapatkan efek langsung bagaimana sinapsis itu terbentuk.
4. Rangsangan berulang-ulang menguatkan jalinan tersebut dan menjadikannya permanen, sedangkan arus listrik baru yang terpakai akhirnya akan mati.
5. Bayi memiliki kebutuhan biologik dan semangat untuk belajar.6. Jaringan dasar pada sinapsis otak hampir lengkap setelah perkembangan otak yang begitu cepat dalam 3 tahun pertama bayi.7. Makin banyak rangsangan yang dapat diberikan kepada bayi menandakan lebih banyak sirkuit yang dibentuk untuk meningkatkan kemampuan belajarnya di masa depan.8. Rangsangan visual bisa meningkatkan perkembangan otak termasuk meningkatkan keingintahuan, perhatian dan konsentrasi.9. Mainan terbaik bayi adalah Anda! Berinteraksilah bersama bayi sesering mungkin.10. Jika Anda memuji bayi Anda dan selau memberinya semangat, bayi Anda akan terpacu untuk belajar dan cenderung lebih cepat memahami.
Karena itu, jika kedua sisi otak kanan maupun kiri dirangsang dengan tepat, anak-anak pun bisa mengembangkan kemampuan jeniusnya dengan normal tanpa kesulitan.
OTAK merupakan organ vital yang berfungsi sebagai pusat kontrol dan kendali atas semua sistem di dalam tubuh. Otak yang juga merupakan pusat kecerdasan atau pusat kemampuan berpikir ini mulai dibentuk selang beberapa saat setelah terjadinya konsepsi (proses peleburan inti sel telur dan inti sel sperma).
Karena itu, sejak anak lahir hingga mulai bisa mengenal beragam hal di lingkungannya, otak anak harus segera dirangsang. Caranya, kenalkan anak pada banyak hal di lingkungan sekitar kita entah itu binatang, tumbuhan, beragam benda lain serta bilangan dan bahasa yang sederhana.
Berikut fakta atas otak anak yang perlu kita ketahui :1. Para ilmuwan menyatakan bahwa 50 % kemampuan otak anak-anak terbentuk dalam 6 tahun pertamanya.
2. Lingkungan memberi efek dramatis pada perkembangan otak balita.
3. Aktivitas dalam otak menciptakan arus kecil listrik yang disebut sinapsis dan jumlah rangsangan yang diterima bayi Anda mendapatkan efek langsung bagaimana sinapsis itu terbentuk.
4. Rangsangan berulang-ulang menguatkan jalinan tersebut dan menjadikannya permanen, sedangkan arus listrik baru yang terpakai akhirnya akan mati.
5. Bayi memiliki kebutuhan biologik dan semangat untuk belajar.6. Jaringan dasar pada sinapsis otak hampir lengkap setelah perkembangan otak yang begitu cepat dalam 3 tahun pertama bayi.7. Makin banyak rangsangan yang dapat diberikan kepada bayi menandakan lebih banyak sirkuit yang dibentuk untuk meningkatkan kemampuan belajarnya di masa depan.8. Rangsangan visual bisa meningkatkan perkembangan otak termasuk meningkatkan keingintahuan, perhatian dan konsentrasi.9. Mainan terbaik bayi adalah Anda! Berinteraksilah bersama bayi sesering mungkin.10. Jika Anda memuji bayi Anda dan selau memberinya semangat, bayi Anda akan terpacu untuk belajar dan cenderung lebih cepat memahami.
Karena itu, jika kedua sisi otak kanan maupun kiri dirangsang dengan tepat, anak-anak pun bisa mengembangkan kemampuan jeniusnya dengan normal tanpa kesulitan.
Thursday, 10 April 2008
Apa yang Kita Sombongkan?
Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence) . Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi.Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan.Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong. Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala "tampak luar" lainnya. Yang kini kita lihat adalah "tampak dalam". Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego.Kedua, kita perlu menyadari bahwa apapun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan dan ngapain juga sombong ?
Pasangan Dari Tuhan
Bertahun-tahun yang lalu, Aku berdoa kepada Tuhan untuk memberikan pasangan hidup, "Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya", Tuhan menjawab. Tidak hanya Aku meminta kepada Tuhan, Aku menjelaskan kriteria pasangan yang kuinginkan. Aku menginginkan pasangan yang baik hati, lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuhpengertian, pintar, humoris, penuh perhatian. Aku bahkan memberikan kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama ini kuimpikan. Sejalan dengan berlalunya waktu, Aku menambahkan daftar kriteria yang kuinginkan dalam pasanganku.Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hatiku," Hamba-Ku, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan. " Aku bertanya, "Mengapa Tuhan?" dan Ia menjawab, " Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar." " Aku bertanya lagi, "Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat memperoleh apa yang aku pinta dari-Mu?" " Jawab Tuhan, "Aku akan menjelaskannya kepada-Mu, Adalah suatu ketidak adilan dan ketidak benaran bagi-Ku untuk memenuhi keinginanmu karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah adil bagi-Ku untuk memberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih kasar, atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam, atau seseorang yang mudah mengampuni tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam, seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak..."Kemudian Ia berkata kepadaku, "Adalah lebih baik jika Aku memberikan kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semuanya itu. Pasanganmu akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu.Pernikahan adalah seperti sekolah - suatu pendidikan jangka panjang. Pernikahan adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid. Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yang dapat tumbuh bersamamu."Kisah ini untuk yang sudah menikah, yang baru saja menikah, yang sedang mencari...
Biarkan Tuhan Menilaimu
Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud buruk di balik perbuatan baik yang kau lakukan. Tetapi, tetaplah berbuat baik.
Terkadang orang berpikir secara tidak masuk akal dan bersikap egois. Tetapi, bagaimanapun juga, terimalah mereka apa adanya.
Apabila engkau sukses, engkau mungkin akan mempunyai musuh dan juga teman yang iri hati atau cemburu. Tetapi teruskanlah kesuksesanmu itu.
Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin akan menipumu. Tetapi, tetaplah bersikap jujur dan terbuka.
Apa yang telah engkau bangun bertahun-tahun lamanya, dapat dihancurkan orang dalam satu malam saja. Tetapi, janganlah berhenti dan tetaplah membangun.
Apabila engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dalam hati, orang lain mungkin akan iri hati kepadamu. Tetapi, tetaplah berbahagia.
Kebaikan yang kau lakukan hari ini, mungkin besok dilupakan orang. Tetapi, teruslah berbuat baik.
Berikan yang terbaik dari apa yang kau miliki, dan itu mungkin tidak akan pernah cukup. Tetapi, tetap berikanlah yang terbaik.
Sadarilah bahwa semuanya itu ada di antara engkau dan Tuhan. Tidak akan pernah ada antara engkau dan orang lain. Jangan pedulikan apa yang orang lain pikir atas perbuatan baik yang kau lakukan. Tetapi percayalah bahwa mata Tuhan tertuju pada orang-orang jujur dan Dia sanggup melihat ketulusan hatimu.
Mother Theresa
Terkadang orang berpikir secara tidak masuk akal dan bersikap egois. Tetapi, bagaimanapun juga, terimalah mereka apa adanya.
Apabila engkau sukses, engkau mungkin akan mempunyai musuh dan juga teman yang iri hati atau cemburu. Tetapi teruskanlah kesuksesanmu itu.
Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin akan menipumu. Tetapi, tetaplah bersikap jujur dan terbuka.
Apa yang telah engkau bangun bertahun-tahun lamanya, dapat dihancurkan orang dalam satu malam saja. Tetapi, janganlah berhenti dan tetaplah membangun.
Apabila engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dalam hati, orang lain mungkin akan iri hati kepadamu. Tetapi, tetaplah berbahagia.
Kebaikan yang kau lakukan hari ini, mungkin besok dilupakan orang. Tetapi, teruslah berbuat baik.
Berikan yang terbaik dari apa yang kau miliki, dan itu mungkin tidak akan pernah cukup. Tetapi, tetap berikanlah yang terbaik.
Sadarilah bahwa semuanya itu ada di antara engkau dan Tuhan. Tidak akan pernah ada antara engkau dan orang lain. Jangan pedulikan apa yang orang lain pikir atas perbuatan baik yang kau lakukan. Tetapi percayalah bahwa mata Tuhan tertuju pada orang-orang jujur dan Dia sanggup melihat ketulusan hatimu.
Mother Theresa
Subscribe to:
Posts (Atom)
Mengenal Azas Kewarganegaraan di Korea selatan
Ada yang bertanya kepada saya tentang Kewarganegaraan Anaknya yang lahir di Korea, atas pernikahan sesama WNI di Korea. Juga kebetulan pas...
-
Ada yang bertanya kepada saya tentang Kewarganegaraan Anaknya yang lahir di Korea, atas pernikahan sesama WNI di Korea. Juga kebetulan pas...
-
Ditulis pada Januari 14, 2008 oleh bayikita Untuk melihat ketiga hal di atas memang tidak mudah, tapi jika kita sudah tahu cirinya, jadi mud...
-
"Kemarahan bisa membuat seseorang menjadi Hina.. Hina dalam Perbuatan.. Kemarahan bisa membuat seseorang menjadi Buruk.. Buruk dalam ...